Selasa, 10 Juli 2018

Hubungan Hipertensi Dan Stroke

Stroke yaitu komplikasi dari hipertensi, dimana kebanyakan dihubungankan secara pribadi dengan tingkat tekanan darah (Zhang et al., 2006). Pemberian obat hipertensi bekerjsama yaitu suatu masalah, lantaran penurunan tekanan darah dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kerusakan organ lebih lanjut, namun dilain pihak, pinjaman obat antihipertensi juga beresiko terjadinya penurunan tekanan darah secara cepat, yang sangat berbahaya terhadap perfusi (aliran darah) ke otak. Oleh lantaran itu, obat antihipertensi tidak diberikan untuk menormalkan tekanan darah, tetapi hanya mengurangi tekanan darah hingga batas tertentu sesuai protokol pengobatan (Karyadib, 2002).

Tekanan darah seringkali meningkat pada periode post stroke dan merupakan beberapa kompensasi respon fisiologi untuk mengubah perfusi serebral menjadi iskemik pada lapisan otak. Hasilnya terapi tekanan darah mengurangi atau menghalangi kerusakan otak akut hingga kondisi klinis stabil (Chobanian et al.,2004).

a. Patofisiologi
Hipertensi merupakan faktor risiko stroke yang potensial. Hipertensi sanggup menjadikan pecahnya maupun menyempitnya pembuluh darah otak. Apabila pembuluh darah otak pecah maka timbullah perdarahan otak dan apabila pembuluh darah otak menyempit maka ajaran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan mengalami kematian. Dari banyak sekali penelitian diperoleh bukti yang terperinci bahwa pengendalian hipertensi baik sistolik, diastolik maupun keduanya menurunkan angka kejadian stroke (Harsono, 2005).

b. Sasaran terapi
Tekanan darah pada fase akut diturunkan perlahan-lahan lantaran hipertensi tersebut timbulnya secara reaktif dan sebagian besar akan turun sendiri pada hari ke 3 hingga 7 (Iskandar, 2003). Penurunan tekanan darah pada stroke iskemik sanggup dipertimbangkan kalau tekanan darah sistolik >220 mmHg atau diastolik >120 mmHg, penurunan tekanan darah sebaiknya sekitar 10-15% dengan monitoring tekanan darah tersebut (Adams et al, 2003), sedangkan pada stroke perdarahan boleh diturunkan apabila tekanan darah sistolik pasien =180mmHg dan atau tekanan darah diastolik >130mmHg (Broderick et al, 2007).

c. Penatalaksanaan hipertensi pada stroke iskemik
Penatalaksanaan hipertensi pada stroke iskemik yaitu dengan obat-obat antihipertensi golongan penyekat alfa beta (labetalol), penghambat ACE (kaptopril atau sejenisnya) atau antagonis kalsium yang bekerja perifer (nifedipin atau sejenisnya) penurunan tekanan darah pada stroke iskemik akut hanya boleh maksimal 20% dari tekanan darah sebelumnya. Nifedipin sublingual harus diberikan dengan hati-hati dan dengan pemantauan tekanan darah ketat setiap 15 menit atau dengan alat monitor kontinyu lantaran sanggup terjadi penurunan darah yang drastis, oleh lantaran itu sebaiknya dimulai dengan takaran 5mg sublingual dan sanggup dinaikkan menjadi 10mg tergantung respon sebelumnya.

Tekanan darah yang sulit diturunkan dengan obat diatas atau kalau diastolik >140mmHg secara persisten maka harus diberikan natrium nitroprusid intravena 50mg/250ml dekstrosa 5% dalam air (200mg/ml) dengan kecepatan 3ml/jam (10mg/menit) dan dititrasi hingga tekanan darah yang diinginkan. Alternatif lain sanggup diberikan nitrogliserin drips 10-20µg/menit. Tekanan darah yang rendah pada stroke akut yaitu tidak lazim. Bila dijumpai maka tekanan darah harus dinaikkan dengan dopamin atau dobutamin drips serta mengobati penyebab yang mendasarinya (Mansjoer et al, 2007).

d. Penatalaksanaan hipertensi pada stroke perdarahan
Penatalaksanaan hipertensi pada stroke hemoragik berlawanan dengan infark serebri akut, pendekatan pengendalian tekanan darah yang lebih berangasan pada pasien dengan perdarahan intraserebral akut, lantaran tekanan yang tinggi sanggup mengakibatkan perburukan edema perihematom serta meningkatkan kemungkinan perdarahan ulang.

Tekanan darah >180mmHg harus diturunkan hingga 150-180mmHg dengan labetalol (20mg intravena dalam menit), di ulangi pinjaman labetalol 40-80mg intravena dalam interval 10 menit hingga tekanan yang diinginkan, lalu infus 2 mg/menit (120 ml/menit) dan dititrasi atau penghambat ACE (misalnya kaptopril 12,5-25mg, 2-3 kali sehari) atau antagonis kalsium (misalnya nifedipin oral 3 kali 10mg) (Mansjoeret al, 2007).

e. Terapi pencegahan
Pemeliharaan sasaran tekanan darah pada pasien yang mengalami stroke yaitu modal utama untuk mengurangi risiko terjadi stroke yang kedua (Saseen dan Carter,2005). Sekitar 5% pasien yang dirawat dengan stroke iskemik mengalami serangan stroke kedua dalam 30 hari pertama (Mansjoer et al, 2007).

 

Semoga bermanfaat......
Sumber :berbagai web


Sumber http://kumpulanresepdantriku.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar